الثلاثاء، 29 يناير، 2013

#149: Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu (:Res)

joko tingkirJudul: Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu
Penulis: Gamal Komandoko

Penerbit: Diva Press
Tahun: Cet-1, Desember 2008
Hal: 411 halaman
Tempat Beli: TB Sarinah Lt-6
Tanggal Beli: 13 Mei 2009
Harga: 50.000,-
Diresensi Oleh: aGusJohn

Kasultanan Demak.
Raden Patah, Sultan Demak Bintoro cemas. Bukan terhadap bupati atau wilayah yang membangkang, tapi terhadap keberadaan Kebo Kenongo alias Ki Ageng Pengging. Sebagai sesama cucu Brawijaya, Raden Patah pantas cemas karena Kebo Kenongo belum juga mau tunduk kepadanya. Dia khawatir, Kebo Kenongo akan menjadi “duri dalam daging” dalam pemerintahannya.
Raden Patah sangat khawatir karena takut sejarah Raden Wijaya yang mendirikan Tarik yang kemudian menjadi Majapahit dan memisahkan diri dari Jayakatwang, Singosari terulang. Dia juga tidak ingin seperti kasusnya Arya Wiraraja (ayahnya Ranggalawe) di Lumajang yang kemudian memberontak Raden Wijaya di era awal berdirinya Majapahit. Apalagi, Kebo Kenongo adalah cucu tertua Raja Brawijaya, yang berarti juga misanan (sepupu)-nya sendiri. Kebo Kenongo adalah putra Pangeran Jayaningrat yang masih keturunan Gajah Mada, dan ibunya adalah Pambayun, putri sulung Raja Brawijaya terakhir.
Walaupun tidak dalam kondisi ingin memberontak, pengaruh dan wibawa Ki Ageng Pengging cukup membuat miris hati Raden Patah, mengingat 40 tetua Tanah Jawa memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Pengging; yang kesemuanya itu murid-murid Syekh Siti Jenar. Diantaranya: Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Getas Aji, Ki Ageng Tambakbaya, Ki Ageng Tembalang, dll (hal 14). Dengan pengaruh yang begitu besar, sementara Ki Ageng Pengging diperingatkan berkali-kali tapi tidak mau tunduk, sangat bisa dipahami betapa gusarnya hati Raden Patah.
Dusun Pengging.
Rubiyah alias Nyi Ageng Pengging sebentar lagi babaran (melahirkan). Menjadi istimewa karena tiga orang sahabat Ki Ageng Pengging bermalam di Pengging. Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang. Selama 10 hari mereka menginap di Pengging.
Merasa mendapatkan kehormatan atas kunjungan teman-temannya itu, Ki Ageng Pengging kemudian membuat pertunjukan wayang beber. Ramailah rumah bangsawan Majapahit itu. Menjadi dalangnya adalah Ki Ageng Pengging sendiri. Pada saat pertunjukan masih berlangsung lahirlah jabang bayi, yang oleh Ki Ageng Tingkir diberi nama “Karebet”, Mas Karebet. Melihat aura yang terpancar dari bayi, Ki Ageng Tingkir meramal bahwa kelak si Karebet akan menjadi orang besar. Atas seijin Ki Ageng Pengging, Karebet dibawa Ki Ageng Tingkir ke Dusun Tingkir (Bab I). Sejak saat itu, Karebet dipanggil Joko Tingkir.
Tidak lama, Ki Ageng Tingkir wafat. Joko Tingkir dibawa kembali oleh Ki Ageng Pengging. Sementara di Demak, Raden Patah mengutus Sunan Kudus untuk menyadarkan Ki Ageng Pengging. Bersama 7 santrinya pergilah mereka ke Pengging.
Sesampai di Pengging, Ki Ageng Pengging masih tetap tidak mau datang ke Demak. Terjadilah perdebatan sengit. Ki Ageng pengging akhirnya tewas di tangan Sunan Kudus setelah sikunya diiris dengan senjata sakti milik Sunan Kudus.
Waktu itu, Joko Tingkir masih bayi. Sepeninggal ayahnya, Joko Tingkir dirawat oleh ibunya. Karena terus didera sakit yang berkepanjangan, Nyi Ageng Pengging akhirnya wafat. Bayi Joko Tingkir diambil lagi oleh Nyi Ageng Tingkir (Bab II).
Masa kecil dan remaja Joko Tingkir dihabiskan di Dusun Tingkir. Atas saran ibu angkatnya, dia berguru ke Ki Ageng Selo. Dia belajar ilmu agama, kanuragan, kedigdayaan tingkat tinggi. Joko Tingkir dijadikan cucu angkat Ki Ageng Selo.
Ki Ageng Selo masih ada turunan Majapahit. Ki Ageng Selo mendapatkan firasat dalam mimpinya bahwa kelak cucu angkatnya akan menjadi raja, “Tiang Utama Tanah Jawa”, bukan dari anak-keturunannya. Hal ini yang menyebabkan dia iri dan berniat membunuh Joko Tingkir, walaupun kemudian diurungkannya.
Untuk menggapai firasat agung tersebut, Ki Ageng Selo menyarankan Joko Tingkir agar segera mengabdi ke Kerajaan Demak. Sebelum pergi, Ki Ageng Selo meminta kepada Joko Tingkir agar kelak anak-turunannya diberi kesempatan menjadi pemimpin tanah Jawa. Joko Tingkir menyanggupinya.
Sehabis dari Selo, Joko Tingkir bukan ke Demak tapi menuju ke Tingkir untuk menemui ibu angkatnya, Nyi Ageng Tingkir. Atas saran Sunan Kalijaga, Joko Tingkir diperintahkan untuk segera pergi ke Demak (Bab III).
Atas saran ibu angkatnya, Joko Tingkir diminta menemui pamannya yang telah lebih dulu mengabdi di Kerajaan Demak, Ki Lurah Ganjur namanya. Atas anjuran pamannya pula Joko Tingkir akhirnya bisa mengabdi kepada Sultan Trenggono sebagai Lurah Tamtama pengawal sultan –kalau sekarang Paspampres- dengan sebutan Ki Lurah Tingkir sekaligus dijadikan anak angkat sultan. Prestasi tersebut dicapai setelah Joko Tingkir beberapa kali mampu menyelamatkan nyawa sultan dan keluarga, diantaranya menaklukkan macan dan buaya. Dari sinilah awal pandangan mata Joko Tingkir terpaut pada putri keempat sultan, Retno Ayu Ratu Mas Cepaka, yang kelak akan menjadi permaisurinya (Bab IV).
Begitu besar kepercayaan sang sultan menyebabkan sosok Joko Tingkir menjadi inspirasi bagi sultan untuk mencari pemuda-pemuda yang sakti mandraguna untuk dijadikan sebagai pasukan Demak agar menjadi kuat. Sebagai tim pengujinya, Joko Tingkir sendiri.
Di sinilah persoalan besar itu muncul. Di antara para peserta seleksi tamtama, terdapatlah seorang pemuda sakti berilmu hitam dari Kedu Pingit bernama Dadung Awuk. Dengan congkak dan sombongnya Dadung Awuk memaksa Joko Tingkir agar dia bisa diterima sebagai prajurit Demak, padahal proses seleksi sudah ditutup. Permintaan tersebut tentu saja ditolak oeh Joko Tingkir, tapi Dadung Awuk memaksa dengan cara menantang. Karena terus didesak dengan tantangan, hilanglah kesabaran Joko Tingkir. Dengan sehelai daun sirih, dilemparlah daun tersebut ke tubuh Dadung Awuk, dan pemuda itupun roboh.
Sultan Trenggono kalap-murka. Dia menuding Joko Tingkir sengaja membunuh Dadung Awuk karena takut posisinya terancam jika Dadung Awuk masuk jadi tamtama Demak. Dengan penuh amarah tanpa mendengarkan pembelaan Joko Tingkir, diusirlah Joko Tingkir dari kerajaan (Bab V). Dalam hal ini, sepertinya sultan mendapatkan informasi yang keliru (hasutan), sehingga tanpa ampun mengusir Joko Tingkir.
Pikiran Joko Tingkir limbung. Dia pergi begitu saja tanpa arah tujuan yang jelas. Dan ketika tubuhnya ambruk terkulai, tertidur di hutan, tanpa sadar dia ditemukan Ki Ageng Butuh dan diajak untuk ke rumahnya. Di Butuh, Joko Tingkir digembleng ilmu kanoragan oleh Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Oleh keduanya, Joko Tingkir juga disarankan untuk selanjutnya belajar ke Ki Ageng Banyubiru.
Di sinilah Joko Tingkir mendapatkan strategi agar bisa kembali ke Kasultanan Demak.  Lewat siasat Ki Ageng Banyu Biru, Joko Tingkir diberi sebuah buntalan berisi tanah agar kelak dimasukkan ke dalam mulut kerbau liar sesampainya dia di Gunung Prawata tempat Sultan Trenggono biasanya rendezvous. Dan kelak hanya Joko Tingkir yang mampu mengalahkan si kerbau liar tersebut. Dengan diiringi oleh murid-murid Ki Banyu Biru yang lain; Mas Manca, Ki Wila dan Ki Wuragil, berangkatlah Joko Tingkir ke Gunung Prawata melalui Sungai Dengkeng. Ki Ageng Majasta, adik Ki Ageng Banyubiru yang juga ayah dari Ki Wila dan kakak dari Ki Wuragil ikut dalam rombongan itu karena rumahnya satu arah ke Prawata (Bab VI).
Dengan getek dari bambu, Sungai Dengkeng kemudian melewati Bengawan Picis tibalah di Dusun Majasta. Ki Ageng Majasta mengajak Joko Tingkir dkk singgah barang sejenak. Setelah tiga hari menginap di Majasta, mereka meneruskan perjalanan. Sampailah di Kedung Srengenge. Rombongan Joko Tingkir diganggu oleh buaya siluman di bawah pimpinan Ki Bau Rekso dan Jalu Mampang. Terjadilah pertempuran hebat. Gerombolan buaya takluk. Sebagai tanda ketundukannya, mereka mengiringi rakit Joko Tingkir hingga sampai Gunung Prawata. Ketika sampai di Dusun Beton, sebelah utara Butuh, hari sudah gelap. Joko Tingkir dkk terpaksa menepi dan tidur di atas rakit dalam penjagaan para buaya.
Dusun Butuh sunyi senyap. Ki Ageng Butuh yang sebelumnya terlelap, tiba-tiba terjaga dari tidur. Kekuatan ghaib menuntunnya untuk pergi ke depan rumah. Dilihatnya cahaya terang di langit sebelah utara yang bergerak seperti bola api. Dalam konsep Jawa itu disebut pulung (wahyu kerajaan).
Ki Ageng Butuh penasaran. Diikutilah arah kemana cahaya itu menuju. Dan betapa terkejutnya dia ketika wahyu itu jatuh di seorang pemuda yang sedang tidur terlelap di atas rakit di sungai; Joko Tingkir!  Disuruhlah Joko Tingkir dkk menginap di Butuh. Ternyata Ki Ageng Ngerang juga ada di Butuh. Dari kedua sahabat ayahnya itulah Joko Tingkir diceritakan kalau dia telah mendapatkan wahyu kerajaan yang kelak akan menggantikan Sultan Trenggono sebagai “Tiang Utama Tanah Jawa”. Joko Tingkir untuk yang kedua kalinya kembali digembleng ilmu, ajaran dan wejangan-wejangan tentang hidup dari kedua tokoh tersebut.
Sehabis dibekali ilmu, Joko Tingkir dkk melanjutkan perjalanan menuju Pesanggrahan Prawata. Mereka turun di Dusun Tiku. Kemudian berjalan hingga sampai di Dusun Dulu, wilayah Majenang. Oleh Joko Tingkir, Dusun Bulu diubah menjadi Dusun Tindak; sebagai pertanda di dusun inilah mereka berjalan menuju Prawata via Hutan Grobogan. (Bab VII).
Sesampai di pesanggrahan Prawata, Joko Tingkir melakukan siasat. Buntalan tanah pemberian Ki Ageng Banyubiru dia masukkan ke dalam mulut seekor kerbau liar. Mengamuklah kerbau itu. Prajurit Demak dibuat porak-poranda. Sultan Trenggono gusar karena pengawalnya tidak satupun yang mampu melumpuhkan kerbau liar. Di saat genting, Joko Tingkir dkk muncul dari semak-semak menonton kegaduhan itu. Demi melihat ada Joko Tingkir, maka Sultan Trenggono minta bantuan pada Joko Tingkir untuk melumpuhkan kerbau liar tersebut. Maka dengan mudah Joko Tingkir menaklukkannya. Diapun kembali diangkat sebagai lurah tamtama pengawal Sultan. Segala kesalahannya terdahulu telah diampuni Sultan.
Melihat keberhasilan Joko Tingkir kembali menjadi lurah tamtama, timbul lagi rasa iri dari Ki Ageng Selo, yang sangat ingin agar dia atau anak keturunannya kelak bisa menjadi raja. Guru Joko Tingkir itu kemudian melamar sebagai tamtama. Karena Joko Tingkir tidak enak hati menguji gurunya, maka Sultan Trenggono yang mengujinya. Dengan panahnya, kerabat Selo dibuat kocar-kacir. Larilah Ki Ageng Selo, dan diapun gagal (Bab VIII).
Atas kebanggaannya terhadap Joko Tingkir, Sultan Trenggono menjodohkan putri keempatnya, Retno Ayu Ratu Mas Cepaka dengan Joko Tingkir atas persetujuan Sunan Kalijaga. Hal ini dikarenakan istri Sultan adalah putri anggota Wali Songo yang paling menonjol tersebut.
Joko Tingkir diberi tanah Pajang dengan gelar Hadiwijaya Adipati  Pajang. Dia bangun daerah baru sebelah barat daya Dusun Butuh itu menjadi besar dan ramai. Hadiwijaya menjadi seorang adipati yang dicintai rakyatnya berkat kebijaksanaannya.
Untuk membalas budi atas jasa-jasa para gurunya, Joko Tingkir mengangkat anak-turunan gurunya menjadi bagian dari istana Pajang. Tiga murid Ki Ageng Banyubiru; Mas Manca diangkat sebagai patih dengan gelar Tumenggung Mancanegara. Ki Wila dan Ki Wuragil dijadikan sebagai bupati.
Ki Ageng Ngenis, anak bungsu Ki Ageng Selo diangkat sebagai priyayi di Lawiyan. Anak dan keponakan Ki Ageng Ngenis, Ki Pamanahan dan Ki Penjawi diangkat sebagai lurah tamtama. Ipar Ki Pamanahan, Ki Juru Martani diangkat sebagai priyayi. Sedangkan anak Pamanahan, Raden Bagus atau Sutawijaya dijadikan sebagai anak angkat Adipati Pajang dengan gelar Raden Ngabehi Loring Pasar.
Anak Ki Ageng Butuh diberi gelar Pangeran Wenang Wulan, sedangkan Ki Ageng Banyubiru dan Ki Ageng Majasta dijadikan sebagai pepunden/junjungan Pajang.
Dalam era ini pula Sultan Trenggono memimpin ekspansi untuk menaklukkan Pasuruan, Singosari dan Blambangan yang masih belum mau tunduk pada Kasultanan Demak. Namun sayang, di tengah perang sebelum negeri-negeri di Jawa Timur tersebut ditaklukkan, Sultan wafat. Sengketa tahta mulai terkuak, apalagi anggota Wali Songo juga terbelah dalam posisi dukung-mendukung terhadap kandidatnya masing-masing (Bab IX). Sunan Kudus mendukung Aryo Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Sunan Kalijaga mendukung Joko Tingkir –Adipati Pajang, sedangkan Sunan Giri merestui Prawata.
Intrik-intrik dalam istana mulai terjadi. Aryo Penangsang melakukan balas dendam. Sunan Kudus yang membeberkan cerita bahwa sesungguhnya pembunuh ayahnya, Pangeran Sekar Seda Ing Lepen adalah Pangeran Prawata, putra Sultan Trenggono membuatnya menuntut balas. Ia merasa haknya sebagai pewaris sah tahta kasultanan Demak pasca Pati Unus wafat, dirampas. Dibunuhlah Prawata melalui tangan Rangkud, utusannya. Demak kembali vacuum of  power. Adik Prawata, Ratu Kalinyamat yang menikah dengan Pangeran Hadiri dari Jepara pergi ke Kudus mencoba untuk meminta keadilan dari Sunan Kudus. Tapi mereka kecewa karena Sunan Kudus membela Aryo Penangsang. Sepulang dari Kudus mereka dicegat pasukan Aryo Penangsang. Semua dibunuh kecuali Ratu Kalinyamat. Melihat kenyataan pahit tersebut, Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang di bukit Danaraja dan mengucapkan sumpah: “Aku tidak akan mengenakan pakaian kembali seumur hidupku hingga Aryo Penangsang mati! Siapapun juga yang mampu menewaskan Aryo Penangsang, ia akan menerima pengabdianku dan seluruh harta kekayaanku” (Bab X).
Agar keinginan menjadi Sultan Demak terlaksana, Sunan Kudus selaku penasehat politik Aryo Penangsang menyarankan untuk melenyapkan Joko Tingkir sebagai satu-satunya penghalang. Mengingat kesaktian Joko Tingkir, maka Aryo Penangsang mengirim empat pembunuh bayaran; Singaprana, Wanengpati, Jagasatru dan Kartijaya. Untuk memuluskan rencana, mereka dibekali oleh pusaka Aryo Penangsang, keris Kiai Setan Kober.
Para pembunuh pembayaran itu dengan mudahnya masuk istana Pajang dengan ajian sirep. Namun sayang, tubuh Joko Tingkir yang sedang tidur tidak mempan dengan hujaman keris Aryo Penangsang. Karena gaduh, Joko Tingkir terbangun. Kibasan selimutnya merobohkan tiga pembunuh hinga pingsan, sedangkan Wanengpati yang masih selamat berhasil dilumpuhkan oleh Ki Pamanahan. Dengan kebijaksanaannya, keempat pembunuh bayaran tersebut diampuni dan diberi hadiah oleh Joko Tingkir, disuruh kembali untuk melapor ke Aryo Penangsang.
Aryo Penangsang merasa terhina dengan perbuatan Joko Tingkir tersebut. Maka dibuatlah siasat berikutnya untuk menjebak Joko Tingkir. Kali ini, dengan mengatasnamakan Sunan Kudus, Aryo Penangsang mengundang Joko Tingkir ke Kudus untuk musyawarah ilmu. Ki Pamanahan yang ahli strategi curiga atas undangan tersebut. Biasanya, undangan musyawarah ilmu itu otoritasnya Sunan Giri, sedangkan Sunan Kudus biasanya mengundang soal pembahasan strategi perang. Atas kejanggalan ini, maka atas saran Pamanahan, Joko Tingkir tetap ke Kudus tapi dengan membawa pasukan terbaik.
Sesampai di pendopo Kudus, Joko Tingkir dan Aryo Penangsang duduk berhadapan. Dengan tipu muslihat Aryo Penangsang meminjam keris pusaka Joko Tingkir dengan segala pujian. Keris itu dikeluarkan dari warangkanya. Melihat gelagat kurang baik, Ki Pamanahan menepuk bahu Joko Tingkir yang menjadikannya tersadar lalu sesegera mungkin mengeluarkan keris pusakanya yang lain; Kiai Cerubuk.
Kedua pangeran dengan keris terhunus saling pamer kekuatan. Sunan Kudus yang melihat  ketegangan tersebut mencoba untuk melerai. Keduanya diminta untuk menyarungkan kembali kerisnya. Joko Tingkir memasukkan keris Kiai Cerubuk ke warangkanya, diikui Aryo Penangsang. Joko Tingkir mengundurkan diri.
Sunan Kudus menyalahkan Aryo Penangsang yang tidak menghujamkan keris Joko Tingkir yang dipinjamnya tatkala Joko Tingkir sudah menyarungkan Kiai Cerubuk terlebih dahulu. Kata-kata Sunan Kudus, “sarungkan kerismu” yang sebenarnya dimaksudkan untuk membunuh Joko Tingkir, dipahami Aryo Penangsang dengan menyarungkan keris Joko Tingkir itu ke warangkanya. Aryo Penangsang menyadari ketidakcerdasannya. Hilang lagi kesempatannya untuk melenyapkan Joko Tingkir (Bab XI).
Hawa permusuhan semakin panas. Jipang Panolan yang berada di sebelah timur Bengawan Sore versus pasukan Pajang di sebelah barat. Dalam kondisi ini peran Ki Pamanahan yang ahli strategi sangat dominan. Walaupun hanya sebatas lurah tamtama Pajang, saran dan nasehatnya sangat didengar oleh Joko Tingkir.
Ingat akan sumpah Ratu Kalinyamat, Pamanahan pergi ke bukit Danaraja. Ia melobi Kalinyamat agar Joko Tingkir diberi kesempatan mengambil sayembara itu. Agar Joko Tingkir teguh semangatnya, Pamanahan menyarankan agar Kalinyamat menawarkan dua dayang cantik  yang menjaganya. Setelah sepakat, Pamanahan kembali ke Bengawan Sore, tempat markas pasukan Pajang untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Kalinyamat.
Joko Tingkir setuju atas laporan Pamanahan, maka berangkatlah ia menuju Danaraja. Sesuai dengan sumpahnya, Kalinyamat akan menyerahkan harta dan kekayaannya jika Joko Tingkir sanggup membunuh Aryo Penangsang. Dua dayang cantik dimunculkan, maka terpesonalah Joko Tingkir. Akhirnya dia menyanggupi menjawab sumpah Ratu Kalinyamat. Agar tidak terjadi masalah di kemudian hari, maka Raden Pangiri (putra Pangeran Prawata) yang masih bocah dijodohkan dengan putri sulung Joko Tingkir. Hal ini dilakukan untuk mengatasi problem kekosongan kekuasaan Demak (Bab XII).
Menjadi aneh, ketika para keturunan Ki Ageng Selo (Ki Pamanahan, Ki Penjawi dan Ki Juru Martani) justru menyarankan agar yang melenyapkan Aryo Penangsang bukan Joko Tingkir langsung, tapi disayembarakan saja dengan hadiah tanah Pati dan hutan Mataram. Endingnya, mereka juga yang mengambil sayembara tersebut (saran dari Ki Juru Martani). Sejarah ini perlu ditela’ah kembali bagaimana Pamanahan cs memberi ide sekaligus mengambil ide tersebut.
Joko Tingkir bangga karena Pamanahan cs menunjukkan keberaniannya. Sutawijaya, anak Pamanahan juga ingin ikut dalam rencana itu. Karenanya, Joko Tingkir memberinya tombak Kiai Plered kepadanya untuk menghadapi Aryo Penangsang. Tombak pusaka tersebut merupakan pemberian Ki Ageng Selo yang tak lain buyut dari Sutawijaya sendiri (Bab XIII).
Ki Juru Martani mulai mengatur siasat. Bersama dua ratus orang Selo mereka menuju ke sebelah barat Bengawan Sore. Di sana, mereka memotong telinga kiri seorang pekatik (pencari rumput) kudanya Aryo Penangsang yang sengaja menjadi telik sandi untuk memata-matai gerak pasukan Selo. Disuruhlah si pekatik itu pulang ke Jipang dengan sepucuk surat tantangan atas nama Hadiwijaya diikatkan di telinga kanan dan diberinya uang secukupnya untuk pengobatan.
Dengan penuh darah yang bercecer, si pekatik menghadap Aryo Penangsang. Murkalah cucu Raden Patah itu. Nasehat Patih Mentaun dan Arya Mataram –adiknya- tidak digubrisnya. Dipacunya Gagak Rimang menuju Bengawan Sore.
Juru Martani memancing emosi agar Aryo Penangsang mau menyeberang bengawan. Konon, menurut riwayat; barang siapa pada saat berperang yang melewati bengawan itu akan mengalami kekalahan. Dengan tombak Kiai Dandang Mungsuh, Aryo Penangsang menyeberang dengan amarahnya. Sesampai di tepi barat bengawan dia dikeroyok ratusan warga Selo, tapi tidak mempan. Orang Selo dibuatnya kocar-kacir. Melihat gelagat demikian, Juru Martani kembali mengatur strategi. Dilepaslah seekor kuda betina untuk mengalihkan konsentrasi Gagak Rimang. Ia terpancing, kuda itu meronta-ronta tidak bisa dikendalikan tuannya. Pada saat Aryo Penangsang lengah, tombak Kiai Plered menghujam dada Aryo Penangsang dari tangan Sutawijaya. Usus Aryo Penangsang terburai, meskipun demikian Adipati Jipang itu masih perkasa melakukan perlawanan. Disampirkanlah ususnya ke gagang keris. Sutawijaya kembali menyerang. Tombak Kiai Plered kembali mementalkan tombak Kiai Dandang Mungsuh hingga terjatuh. Aryo Penangsang mencabut kerisnya. Tapi dia lupa, ususnya pun putus oleh pusakanya sendiri. Tewaslah Aryo Penangsang.
Juru Martani kembali melakukan siasat. Laporan yang masuk ke Joko Tingkir menyebutkan yang membunuh Aryo Penangsang adalah Ki Pamanahan dan Ki Penjawi, bukan Sutawijaya. Ini sebagai strategi agar hadiah sayembara dari Joko Tingkir tetap bisa didapatkan, karena kalau Joko Tingkir tahu yang membunuh Aryo Penangsang adalah Sutawijaya yang notabene anak angkatnya, tentu dia tidak akan memberikan hadiah tanah Pati dan hutam Mataram, tapi hanya hadiah biasa saja (Bab XIV).
Joko Tingkir bangga akan keberhasilan keturunan Ki Ageng Selo. Ki Penjawi diberinya (dan memilih) tanah Pati, sedangkan hutan Mataram akan diserahkan ke Pamanahan sehabis dia diutus melapor ke Ratu Kalinyamat di bukit Danaraja. Lagi-lagi Pamanahan berbohong tentang siapa pembunuh Aryo Penangsang (sesuai yang dilaporkannya juga ke Joko Tingkir). Karena jasanya, Ratu Kalinyamat menyerahkan wilayah Kalinyamat dan Prawata ke Pamanahan, tapi dia menolak hadiah sayembara tersebut.
Ratu Kalinyamat merestui gelar sultan untuk Hadiwijaya; Sultan Hadiwijaya Kerajaan Pajang. Ratu juga memberi hadiah harta kekayaan untuk Pamanahan, tapi sekali lagi ditolak. Pamanahan hanya minta pusaka saja. Ratu Kalinyamat akhirnya memberinya 2 cincin pusaka; cincin mirah delima “Menjangan Bang” dan cincin pusaka intan “Si Celuk” dengan perjanjian tanpa sepengetahuan Joko Tingkir.
Sepulang dari Danaraja, Pamanahan bukannya ke Pajang tapi mampir ke kampungnya dulu di Selo. Dia mengajak kerabatnya untuk pindah dan membabat hutan Mataram sebagai sebuah daerah perdikan Pajang. Sehabis dari hutan Mataram barulah ia ke Pajang.
Lagi-lagi Joko Tingkir menunda hadiah sayembara hutan Mataram. Janjinya, hadiah itu akan diberikan kepada Pamanahan saat “Penghadapan Agung” di Giri, Gresik. Di acara pengukuhan Joko Tingkir sebagai sultan Tanah Jawa oleh Sunan Giri itulah hadiah akan diberikannya. Pamanahan mulai memendam kecewa.
Joko Tingkir sepertinya takut akan ramalan guru sekaligus kakek menantunya, Sunan Kalijaga yang telah meramalkan akan muncul kerajaan besar dari hutan Mataram. Karenanya, hadiah tersebut dia pending. Hanya atas bantuan Sunan Kalijogo pula akhirnya Joko Tingkir mau menyerahkan hutan Mataram ke Ki Pamanahan. Syaratnya, Pamanahan harus mengikat tunduk-setia pada Pajang. Pamanahan berikrar setia tapi hanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak mengikrarkan setia untuk anak dan turunannya. Dan kelak memang benar, muncullah Sutawijaya yang tak lain anak angkat Joko Tingkir dengan gelar Panembahan Senopati sebagai raja pertama Kerajaan Mataram. Dia memerintah hingga 32 tahun lamanya. Dengan munculnya Mataram Baru, maka berakhirlah riwayat kerajaan Pajang yang hanya mampu berumur 1 raja saja, yakni Joko Tingkir itu sendiri. Akhirnya tercapailah harapan Ki Ageng Selo; bahwa anak-keturunannya akhirnya bisa menjadi raja Jawa.
***
Tidak banyak novel yang mengambil tema sejarah. Selama ini, novelis sejarah paling top di Indonesia menurut penulis adalah Pramoedya Ananta Tour (Pram). Dan novel ini menjadi salah satu jawaban setelah meninggalnya Pram. Komandoko begitu kuat menovelkan sejarah.
Novel Komandoko ini belum sehabat Pram. Pilihan katanya, sastranya, rangkaian katanya belum sehebat Pram. Komandoko belum mampu “menarik” pembaca untuk terhanyut dalam cerita novelnya. Dari novel yang panjang ini nyaris tidak ditemukan sama sekali “sejarah baru”. Semua datar-datar saja, seperti sejarah pada umumnya. Tidak ada temuan baru yang bisa membuat interpretasi baru terhadap sebuah sejarah.
Beberapa catatan “aneh” dan “janggal” juga ada dalam novel ini, seperti: Pertama, tentang Sunan Kudus yang membunuh Pangeran Jayaningrat, ayah Ki Ageng Pengging. Ini menjadi “mustahil” karena Sunan Kudus sangat mungkin satu era dengan Ki Ageng Pengging, ayah Joko Tingkir. Mungkin yang dimaksud bukan Sunan Kudus, tapi Sunan Ngudung, ayah Sunan Kudus. Karena memang Sunan Ngudung adalah senopati perang tatkala Demak menyerbu Majapahit. Sangat mungkin di sinilah Sunan Ngudung berhasil menewaskan Pangeran Jayaningrat, kakek Joko Tingkir.
Kedua, Joko Tingkir berguru ke Ki Ageng Sela. Disebutkan Ki Ageng Sela adalah keponakan sekaligus menantu  Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Sela berputra Ki Ageng Ngenis, berputra Ki Pamanahan. Menjadi sangat rancu, karena Joko Tingkir sebenarnya seangkatan dengan Ki Pamanahan. Sedangkan Ki Ageng Sela memanggil “kakang” pada Ki Ageng Pengging, ayah Joko Tingkir. Padahal yang seangkatan dengan Ki Ageng Pengging adalah Ki Ageng Ngerang, mertua Ki Ageng Sela. Silsilah ini begitu rumit.

‏ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق